Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
(NN)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts
Sunday, June 24, 2012
Jadi Seperti Apakah Anak ini nanti?
Label:
berita. agama,
buddha,
hindu,
islam,
katolik,
kristen,
opini,
pendidikan anak
Monday, April 30, 2012
Satu Contoh Jauh Lebih Baik daripada 10,000 Kata-kata Nasehat
¤ Jangan pernah merasa khawatir jika orang lain tidak mengerti dirimu• Khawatirlah jikalau kamu tidak mengerti orang lain.
¤ Apa yang tidak ingin orang lain perlakukan kepada anda• Jangan perlakukan hal tsb kepada orang lain.
¤ Satu contoh jauh lebih baik daripada 10,000 kata² nasehat.
¤ Menaklukkan ribuan orang belum bisa disebut sebagai pemenang• Mampu mengalahkan diri sendiri itulah yang disebut pemenang sejati.
¤ Baik sepatutnya dibalas baik, jahat jangan dibalas jahat.• Selalulah berbuat baik setiap saat.
¤ Perjalanan 1,000 km dimulai dari 1 langkah kecil.• Ambillah langkah tsb..
¤ Bila anda mengetahui sesuatu, katakanlah jika anda tahu.• Bila anda tidak tahu sesuatu katakanlah tidak tahu.Itulah yang dinamakan pengetahuan.
¤ Kata-kata yang tulus kadangkala tidaklah indah• Kata-kata yang indah kadangkala tidaklah tulus.
¤ Kalau kamu takut orang akan tahu perbuatanmu yang jelek, maka ada sesuatu yang baik di dalam yang jahat.• Kalau kamu ingin orang mengetahui bila kamu berbuat baik, maka ada sesuatu yang buruk di dalam yang baik.
¤ Orang yang berbuat baik, walaupun rezeki belum tiba, tapi bencana telah menjauhinya.• Orang yang berbuat jahat, meskipun bencana belum tiba, tapi rezeki telah menjauhinya.
(Charles, milis APIK)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
¤ Apa yang tidak ingin orang lain perlakukan kepada anda• Jangan perlakukan hal tsb kepada orang lain.
¤ Satu contoh jauh lebih baik daripada 10,000 kata² nasehat.
¤ Menaklukkan ribuan orang belum bisa disebut sebagai pemenang• Mampu mengalahkan diri sendiri itulah yang disebut pemenang sejati.
¤ Baik sepatutnya dibalas baik, jahat jangan dibalas jahat.• Selalulah berbuat baik setiap saat.
¤ Perjalanan 1,000 km dimulai dari 1 langkah kecil.• Ambillah langkah tsb..
¤ Bila anda mengetahui sesuatu, katakanlah jika anda tahu.• Bila anda tidak tahu sesuatu katakanlah tidak tahu.Itulah yang dinamakan pengetahuan.
¤ Kata-kata yang tulus kadangkala tidaklah indah• Kata-kata yang indah kadangkala tidaklah tulus.
¤ Kalau kamu takut orang akan tahu perbuatanmu yang jelek, maka ada sesuatu yang baik di dalam yang jahat.• Kalau kamu ingin orang mengetahui bila kamu berbuat baik, maka ada sesuatu yang buruk di dalam yang baik.
¤ Orang yang berbuat baik, walaupun rezeki belum tiba, tapi bencana telah menjauhinya.• Orang yang berbuat jahat, meskipun bencana belum tiba, tapi rezeki telah menjauhinya.
(Charles, milis APIK)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama,
filsafat,
keteladanan,
opini,
pengalaman hidup,
renungan bijaksana
Friday, December 16, 2011
Pokok-Pokok Pandangan Utama Gerakan Zaman Baru / New Age
Pokok-Pokok Pandangan Utama Gerakan Zaman Baru / New Age dalam kartun-kartun orientalis yang perlu diwaspadai, adalah sbb.:
(1). Wahyu. "Percaya adanya wahyu yang khusus dan terus menerus dari kekuatan atau misteri semesta (makro kosmos) kepada manusia (mikro kosmos) melalui perantara atau mediator, seperti nabi-nabi agama, medium, chaneler, dukun, yang dalam kebudayaan Hindu disebut "Avatar".
(2). Tuhan. Bersifat pantheism, "Semua adalah tuhan dan tuhan adalah semua."
(3). Mesias. "Akan ada tokoh dunia yang bersifat 'mystic' dan 'occultic' yang menjadi pemersatu dunia dan penggerak untuk tatanan dunia baru".
(4). Setan. "Tidak ada setan. Setan hanyalah efek negatif dari keilahian, aspek negatif dari kekuatan semesta yang timbul karena ketidakseimbangan atau ketidakharmonisan kosmis itu".
(5). Manusia. "Manusia adalah bagian kecil dari mikro kosmos -- alam semesta dan mempunyai sifat ilahi dalam dirinya, atau dapat dikatakan bahwa manusia adalah tuhan di antara tuhan".
(6). Iman. "Potensi manusia berupa energi dalam dirinya; kehendak dan motivasi manusia itu sendiri".
(7). Doa. "Sama artinya dengan meditasi atau penyatuan diri dengan hakekat alam semesta".
(8). Dosa dan Keselamatan. "Tidak ada kejahatan atau dosa, yang ada hanya ketidak seimbangan; oleh sebab itu tidak perlu keselamatan".
(9). Agama. "Agama adalah jalan menuju yang satu; yaitu menuju roh semesta. Semua agama adalah sama, karena menuju pada tujuan yang sama, yaitu kesatuan kosmis".
(10). Hal-hal akhir. "Tujuan akhir dunia adalah tatanan dunia baru dan persatuan dari berbagai budaya, agama, dan negara".
(11). Kesehatan. "Kesehatan yang benar hanya dapat dihasilkan bila terjadi interaksi yang tepat dan keseimbangan dalam tubuh, jiwa, dan roh manusia. (sumber: milis APIK melalui link: www.sabdaspace.com/naruto_dkk_new_age_movement )
Powered by Telkomsel BlackBerry®
(1). Wahyu. "Percaya adanya wahyu yang khusus dan terus menerus dari kekuatan atau misteri semesta (makro kosmos) kepada manusia (mikro kosmos) melalui perantara atau mediator, seperti nabi-nabi agama, medium, chaneler, dukun, yang dalam kebudayaan Hindu disebut "Avatar".
(2). Tuhan. Bersifat pantheism, "Semua adalah tuhan dan tuhan adalah semua."
(3). Mesias. "Akan ada tokoh dunia yang bersifat 'mystic' dan 'occultic' yang menjadi pemersatu dunia dan penggerak untuk tatanan dunia baru".
(4). Setan. "Tidak ada setan. Setan hanyalah efek negatif dari keilahian, aspek negatif dari kekuatan semesta yang timbul karena ketidakseimbangan atau ketidakharmonisan kosmis itu".
(5). Manusia. "Manusia adalah bagian kecil dari mikro kosmos -- alam semesta dan mempunyai sifat ilahi dalam dirinya, atau dapat dikatakan bahwa manusia adalah tuhan di antara tuhan".
(6). Iman. "Potensi manusia berupa energi dalam dirinya; kehendak dan motivasi manusia itu sendiri".
(7). Doa. "Sama artinya dengan meditasi atau penyatuan diri dengan hakekat alam semesta".
(8). Dosa dan Keselamatan. "Tidak ada kejahatan atau dosa, yang ada hanya ketidak seimbangan; oleh sebab itu tidak perlu keselamatan".
(9). Agama. "Agama adalah jalan menuju yang satu; yaitu menuju roh semesta. Semua agama adalah sama, karena menuju pada tujuan yang sama, yaitu kesatuan kosmis".
(10). Hal-hal akhir. "Tujuan akhir dunia adalah tatanan dunia baru dan persatuan dari berbagai budaya, agama, dan negara".
(11). Kesehatan. "Kesehatan yang benar hanya dapat dihasilkan bila terjadi interaksi yang tepat dan keseimbangan dalam tubuh, jiwa, dan roh manusia. (sumber: milis APIK melalui link: www.sabdaspace.com/naruto_dkk_new_age_movement )
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama,
katolik,
new age,
opini,
renungan harian
Thursday, January 15, 2009
Setia dan Segera Mengembangkan Talenta
Renungan:
Setia dan Segera Mengembangkan Talenta
Sumber Bahan Renungan:
Mat 25:14-30 (“Perumpamaan tentang Talenta”)
“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat” (ay. 14-15)
Dari sabda Yesus tersebut, kita dapat melihat bahwa talenta adalah pemberian Tuhan, atau titipan Tuhan, yang dipercayakan kepada manusia. Dengan demikian manusia diberi kepercayaan mememiliki talenta dan ia harus memperlakukan talenta tersebut menurut kehendakNya. Ada yang diberi dalam jumlah besar, sedang dan kecil, ada yang diberi bakat menyanyi, bakat menulis, bakat bermain sepak bola, dan lain sebagainya, sesuai dengan kesanggupan manusia dalam mengembangkan anugerah talenta-talenta tersebut.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Anda, saya, kita semua dipercayakan Tuhan talenta dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. Setelah mempercayakan talenta-talenta tersebut kepada kita, Tuhan memberikan kebebasan kepada kita untuk memperlakukan talenta itu. Kita diberi akal budi, pikiran dan kesanggupan untuk mengelola talenta tersebut.
Seperti hamba-hamba tuan dalam bacaan Injil Matius tadi, “Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya” (Ay. 16-18).
Dari tindakan para hamba itu, kita dapat melihat, seperti hamba yang mana, kita telah memperlakukan talenta yang dipercayakan Tuhan kepada kita? Apakah seperti hamba yang menerima lima dan dua talenta? Atau malahan seperti hamba yang menerima satu talenta, yang menyembunyikan satu-satunya talentanya itu, sehingga tidak membuahkan hasil?
Orang-orang yang mengembangkan talenta adalah mereka yang segera menggunakan akal budi, pikiran, tenaga dan waktu yang ada padanya untuk memperbesar dan mengembangkan anugerah yang diberikan Tuhan. Karena perumpamaan itu berkaitan dengan talenta sebagai mata uang pada zaman itu, maka tindakan mengembangkan talenta oleh penerima lima dan dua talenta digambarkan dengan menjalankan uang atau berdagang. Mereka tidak menyimpan talenta itu tetapi menjalankannya untuk memperoleh keuntungan atau laba.
Kata “segera” menggambarkan ukuran waktu, yaitu bahwa orang yang pandai mengembangkan talenta, tidak membuang-buang waktu tetapi segera bertindak. Mereka segera sadar bahwa waktu sangat penting dan menentukan. Mereka tahu bahwa tuannya akan meminta pertanggungjawaban talenta itu pada waktunya. Mereka bukan tipe manusia dengan sebutan “NATO” (No Action, Talk Only), terlalu banyak omong atau banyak pertimbangan tanpa melakukan tindakannya. Kita sudah menyaksikan bahwa banyak pelajar Indonesia, entah SMP atau SMU memperoleh medali emas dalam perlombaan pengetahuan Fisika, Biologi, atau Matematika di tingkat antar-bangsa atau tingkat internasional. Mereka benar-benar menyadari betapa bakat, pemberian Tuhan kepada mereka, harus segera dikembangkan. Akhirnya, begitu banyak laba dan keuntungan yang diperoleh baik bagi diri sendiri, keluarga maupun bagi bangsa Indonesia.
Tentang hal ini, Benjamin Franklin (1706-1790), mantan presiden Amerika Serika ke-24 mengingatkan, “Apakah Anda mencintai kehidupan? Jangan hamburkan WAKTU karena dari waktu itulah kehidupan dibuat”. Waktu itu sangat berharga bagi mereka yang mencintai kehidupan.
Saudara-saudari yang saya cintai,
Perumpamaan yang disampaikan Yesus kepada murid-muridNya, juga disampaikan kepada kita, agar kita semua menyadari pentingnya kesetiaan dan ke-segera-an untuk memelihara dan mengembangkan berkat atau talenta yang diberikan Tuhan kepada kita. Kesetiaan atau ke-segera-an untuk mengembangkan anugerah dari Tuhan, akan menghasilkan berkat yang lebih besar. Pada waktunya nanti, Tuhan akan meminta pertanggungjawaban dari kita masing-masing atas talenta atau bakat yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Lewat perumpamaan tentang talenta tadi, Tuhan Yesus menghendaki agar iman dan setiap talenta serta kesempatan yang diberikan Tuhan, kita pelihara dan kita kembangkan sesuai dengan kesanggupan kita. Kalau kita tekun dan setia dalam talenta dan berkat yang kecil, Tuhan akan mempercayakan kepada kita hal-hal yang lebih besar. Marilah kita dengan setia dan segera mengembangkan talenta kita, entah bakat menyanyi, bermain sepak bola, mengarang, menari dan lain sebagainya, agar berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan tentu bagi bangsa dan Gereja kita! Semoga Tuhan memberi berkat dan bimbingan kepada kita dalam mengembangkan talenta.
Amin.
(Pormadi Simbolon)
Setia dan Segera Mengembangkan Talenta
Sumber Bahan Renungan:
Mat 25:14-30 (“Perumpamaan tentang Talenta”)
“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat” (ay. 14-15)
Dari sabda Yesus tersebut, kita dapat melihat bahwa talenta adalah pemberian Tuhan, atau titipan Tuhan, yang dipercayakan kepada manusia. Dengan demikian manusia diberi kepercayaan mememiliki talenta dan ia harus memperlakukan talenta tersebut menurut kehendakNya. Ada yang diberi dalam jumlah besar, sedang dan kecil, ada yang diberi bakat menyanyi, bakat menulis, bakat bermain sepak bola, dan lain sebagainya, sesuai dengan kesanggupan manusia dalam mengembangkan anugerah talenta-talenta tersebut.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Anda, saya, kita semua dipercayakan Tuhan talenta dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. Setelah mempercayakan talenta-talenta tersebut kepada kita, Tuhan memberikan kebebasan kepada kita untuk memperlakukan talenta itu. Kita diberi akal budi, pikiran dan kesanggupan untuk mengelola talenta tersebut.
Seperti hamba-hamba tuan dalam bacaan Injil Matius tadi, “Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya” (Ay. 16-18).
Dari tindakan para hamba itu, kita dapat melihat, seperti hamba yang mana, kita telah memperlakukan talenta yang dipercayakan Tuhan kepada kita? Apakah seperti hamba yang menerima lima dan dua talenta? Atau malahan seperti hamba yang menerima satu talenta, yang menyembunyikan satu-satunya talentanya itu, sehingga tidak membuahkan hasil?
Orang-orang yang mengembangkan talenta adalah mereka yang segera menggunakan akal budi, pikiran, tenaga dan waktu yang ada padanya untuk memperbesar dan mengembangkan anugerah yang diberikan Tuhan. Karena perumpamaan itu berkaitan dengan talenta sebagai mata uang pada zaman itu, maka tindakan mengembangkan talenta oleh penerima lima dan dua talenta digambarkan dengan menjalankan uang atau berdagang. Mereka tidak menyimpan talenta itu tetapi menjalankannya untuk memperoleh keuntungan atau laba.
Kata “segera” menggambarkan ukuran waktu, yaitu bahwa orang yang pandai mengembangkan talenta, tidak membuang-buang waktu tetapi segera bertindak. Mereka segera sadar bahwa waktu sangat penting dan menentukan. Mereka tahu bahwa tuannya akan meminta pertanggungjawaban talenta itu pada waktunya. Mereka bukan tipe manusia dengan sebutan “NATO” (No Action, Talk Only), terlalu banyak omong atau banyak pertimbangan tanpa melakukan tindakannya. Kita sudah menyaksikan bahwa banyak pelajar Indonesia, entah SMP atau SMU memperoleh medali emas dalam perlombaan pengetahuan Fisika, Biologi, atau Matematika di tingkat antar-bangsa atau tingkat internasional. Mereka benar-benar menyadari betapa bakat, pemberian Tuhan kepada mereka, harus segera dikembangkan. Akhirnya, begitu banyak laba dan keuntungan yang diperoleh baik bagi diri sendiri, keluarga maupun bagi bangsa Indonesia.
Tentang hal ini, Benjamin Franklin (1706-1790), mantan presiden Amerika Serika ke-24 mengingatkan, “Apakah Anda mencintai kehidupan? Jangan hamburkan WAKTU karena dari waktu itulah kehidupan dibuat”. Waktu itu sangat berharga bagi mereka yang mencintai kehidupan.
Saudara-saudari yang saya cintai,
Perumpamaan yang disampaikan Yesus kepada murid-muridNya, juga disampaikan kepada kita, agar kita semua menyadari pentingnya kesetiaan dan ke-segera-an untuk memelihara dan mengembangkan berkat atau talenta yang diberikan Tuhan kepada kita. Kesetiaan atau ke-segera-an untuk mengembangkan anugerah dari Tuhan, akan menghasilkan berkat yang lebih besar. Pada waktunya nanti, Tuhan akan meminta pertanggungjawaban dari kita masing-masing atas talenta atau bakat yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Lewat perumpamaan tentang talenta tadi, Tuhan Yesus menghendaki agar iman dan setiap talenta serta kesempatan yang diberikan Tuhan, kita pelihara dan kita kembangkan sesuai dengan kesanggupan kita. Kalau kita tekun dan setia dalam talenta dan berkat yang kecil, Tuhan akan mempercayakan kepada kita hal-hal yang lebih besar. Marilah kita dengan setia dan segera mengembangkan talenta kita, entah bakat menyanyi, bermain sepak bola, mengarang, menari dan lain sebagainya, agar berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan tentu bagi bangsa dan Gereja kita! Semoga Tuhan memberi berkat dan bimbingan kepada kita dalam mengembangkan talenta.
Amin.
(Pormadi Simbolon)
Label:
agama,
berita,
opini,
renungan Katolik,
talenta
Subscribe to:
Posts (Atom)