Wednesday, March 20, 2013
Menjadi Murid Sejati
Demikian juga seorang murid beladiri dalam mempelajari beladiri dari pelatih/guru. Murid belajar dari guru, melihat, mendengar, melaksanakan semua yang disampaikan guru demi memperoleh pembebasan dari tidak mampu beladiri, menjadi mampu.
Suatu kali peristiwa, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (bdk Yoh 8:31-32)
Maka berangkat dari sabda Yesus, jika kita beralih dari firman-Nya, kita benar-benar bukan murid-Nya, dan kita tidak akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu tidak memerdekaan kita.
Maka menjadi penting soal KEMURIDAN dalam relasi kita dengan Yesus. Menjadi murid Yesus, adalah sikap taat, patuh, disiplin, dalam mempelajari Firman Sang Guru. Sebab Yesus, Sang Guru, adalah Jalan Kebenaran dan Kehidupan bagi murid-muridNya. Sabda itu adalah Allah yang menjelma menjadi daging dalam diri Yesus Kristus.
Sudah tentu, bila kita sebagai murid tidak belajar lagi dari Yesus maka kita akan menjauh dari Jalan, Kebenaran dan Kehidupan. Yang ada adalah kesesatan, ketidakbenaran, dan kematian.
"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Monday, March 18, 2013
Ketulusan Hati
Demikianlah, jika bekerja dan melayani entah dalam keluarga, kantor dan masyarakat sekitar, akan membawa kepuasan dan kebahagiaan tersendiri serta hasil pelayanan yang optimal. Namun jika tidak tulus, pelayanan kita tidak optimal, dan dilakukan dengan berat hati.
Ketulusan hati adalah kelurusan hati, kesucian hati, tanpa motif apapun, hanya demi sesuatu yang lebih tinggi, antara lain demi kemuliaan Tuhan dan demi kebahagiaan semua orang.
Ketlusan ini dapat kita jumpai dalam diri Yusuf, suami Maria. Maria sudah mengandung Yesus dari Roh Kudus, padahal mereka belum melakukan hubungan jasmani.
Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam." (Bdk. Mat 1:19). Yusuf mulai bingung dan gelisah, namun Tuhan melalui caranya memberitahu Yusuf bahwa anak itu adalah Yesus, Penyelamat manusia. Yusuf pun menjadi tenang, dan memimpin keluarganya, Maria dan Yesus. Ia mendidik Yesus sampai besar.
Buah dari keutulusannya adalah karya keselamatan Allah tetap berjalan, umat manusia bersorak-sorai karena Sang Penyelamat Manusia telah lahir ke dunia.
Apakah kita sudah tulus hati sebagai ibu atau ayah dalam keluarga? Apakah kita sudah bekerja dengan tulus? Lebih jauh, apakah kita sudah memberikan dan mempersembahkan hidup kita dengan tulus untuk kemuliaan Allah? Amin
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sunday, March 17, 2013
Barangsiapa Tidak Berdosa, Hendaklah Ia Melemparkan Batu kepada Perempuan itu!
Untuk itu, kita juga perlu instrospeksi diri, agar kita tidak langsung menilai orang hanya dari suatu kesalahan saja.
Hal ini Yesus peringatkan kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat.
Suatu hari "Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan."
Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."(Bdk. Yoh 8:1-11)
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Inilah kata-kata Yesus yang langsung mengena dan memperingatkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua.
Apakah kita sudah melihat sikap dan perbuatan kita sebelum mencap orang lain negatif dan jelek? Apakah kita sudah memperbaiki diri lebih dulu sebelum memperbaiki diri orang lain? Perbaikan diri dan pertobatan harus dimulai dari diri, keluarga kita, baru kemudian orang lain. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Pergilah, dan Jangan Berbuat Dosa Lagi
Lebih parah lagi, apabila mereka ini tertangkap basah mencuri, atau melanggar hukum, pasti hukumannya lebih berat dibanding dengan hukuman para koruptor kelas kakap.
Namun berbeda dengan sikap Yesus, terhadap seorang perempuan yang ketahuan berbuat zinah. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi berpendapat bahwa perempuan tersebut harus dilempari batu.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa perempuan berzinah itu kepada Yesus, untuk menguji "kemampuan" Yesus sekaligus untuk menjebakNya agar jatuh pada suatu kesalahan yaitu melanggar hukum Taurat.
Suatu kali Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang
kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang
perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan
jari-Nya di tanah.
Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit
berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak
berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua.
Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, dimanakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Bdk. Yohanes 8:1-11)
Yesus tidak memandang rendah orang kecil-lemah, miskin-tersingkir dan sakit-cacat, seperti si permempuan zinah tersebut. Yesus juga tidak melanggar hukum Taurat yang ditampilkan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.
Yesus tetap menghormati pribadi manusia, hukum Taurat dan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus tidak terjebak jatuh pada perangkap pelanggaran hukum.
Lebih jauh, Yesus juga tidak melawan kehendak BapaNya untuk menyelamatkan semua orang. Semua orang dipanggil untuk diselamatkan Allah, dengan syarat manusia harus menanggapi panggilanNya. Kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
AMIN.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Saturday, March 16, 2013
Berani Membela yang Benar
Demikian pula yang terjadi kepada Nikodemus dan yang lain yang membela Yesus.
Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan
perkataan-perkataan Yesus, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan
datang." Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata:
"Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal."
Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada
seorangpun yang berani menyentuh-Nya.
Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang
Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?"
Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!"
Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga
disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah
mereka!"
Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya,
berkata kepada mereka: "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan
sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?"
Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea." Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya, (Bdk. Yohanes 7:40-53)
Membela dan mengatakan yang benar harus memiliki keberanian menanggung resiko dan dengan jiwa yang besar bersaksi tentang yang benar dengan segala argumen yang sesuai fakta. Apakah kita berani mengatakan kebenaran dalam berhadapan dengan penguasa dan pengusaha? Amin
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Thursday, March 14, 2013
Beriman itu Tidak Gampang
Hal yang sama terjadi pada orang Yahudi, ketika Yesus memberi kesaksian bahwa Ia diutus BapaNya. . Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap
tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk
membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.
Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau
bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal-Nya."
Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: "Memang Aku kamu kenal
dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku."
Orang-orang Yahudi berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Bdk.Yohanes 7:1-2,10,25-30)
Melihat kesaksianNya, Yesus yang berasal dari Nasaret, anak tukang kayu adalah Kristus, Penyelamat yang diutus ke tengah dunia. Karena asal dan statusnya sederhana, terlebih lagi, Ia mengaku diutus Allah, menambah kemarahan orang Yahudi. Kristus yang diyakini mereka bukan seperti Yesus anak tukang kayu dari Nasaret. Maka, orang Yahudi berencana membunuh Yesus di saat waktunya tiba.
Berkata bahwa Yesus adalah Penyelamatku, itu gampang. Namun, berkata bahwa Yesus adalah Penyelamatku, Guru, Jalan, Hidup dan Kebenaran secara meyakinkan dan penuh daya kekuatan di dalam diri kita, itu tidak gampang. Untuk itu, relasi personal dan pengalaman akan Allah perlu dibangun dan dimohonkan kepadaNya, agar iman kita benar berdaya dahsyat di dalam perbuatan baik kita. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Wednesday, March 13, 2013
Datanglah kepada Yesus, maka Kamu Hidup!
Analogi demikian mungkin bisa menggambarkan relasi kita yang lebih mesra dengan Yesus Kristus sebagai Utusan Allah atau Putera Bapa. Bedanya dengan relasi atasan bawahan pada birokrasi adalah soal punishment dan reward. Dalam relasi dengan Yesus, meskipun manusia tidak setia, Ia tetap setia untuk menyelamatkan umat manusia.
Pertanyaan mendasar bagi semua orang yang mengaku beriman kepada Yesus, apakah kita selalu datang kepada-Nya untuk berkonsultasi sebelum bertugas setiap hari, dan lalu bersyukur atas hidup serta melaporkan karya kehidupan kita. Dan memohon ampun atas kekurangan kita sepanjang hari?
Secara jujur, jawaban kita atas pertanyaan tersebut tentu belum sepenuhnya bisa melaksanakannya. Sebab, meskipun kita tahu tentang jati diri Yesus dari berbagai sumber, antara lain Kitab Suci, namun kita belum datang kepadaNya untuk menimba kekuatan hidup, malahan kita lebih mengandalkan kekuatan sendiri.
Hal ini ditegaskan Yesus kepada orang Yahudi di jamanNya, "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. (Bdk. Yoh 5:39-40)
Supaya kita memperoleh kekuatan dalam hidup dan hidup yang kekal, maka marilah kita datang kepada Yesus Kristus, membangun relasi dan memohon pengalaman akan Allah. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Tuesday, March 12, 2013
Yesus Sama seperti Bapa-Nya
Demikian juga halnya dengan Yesus sebagai anak Allah. Yesus sendiri memberi kesaksian tentang pekerjaan dan "pelajaran" yang diajarkan BapaNya.
Inilaah keskasian Yesus tentang diriNya dan BapaNya: (1) "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka
Akupun bekerja juga."
(2)"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak,
(3) Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.
(4) Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan
menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang
dikehendaki-Nya.
(5) Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,
(6) Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka meng-hormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.
(6) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan
tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
(7) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.
(8) Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
(9) Penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Bdk. Yohanes 5:17-30)
Kesaksian ini menunjukkan siapa Yesus yang sebenarNya. Yesus adalah HAKIM yang adil atas orang hidup dan orang mati. Yang lebih hebat lagi, seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan Yesus mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
Sudahkah anda benar-benar PERCAYA kepada YESUS dan kepada Yang mengutusNya? AMIN.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Berani Melawan Arus
Adat orang tua pada suku tertentu mengharuskan anaknya melakukan pesta adat pernikahan setelah melaksanakan acara pemberkatan perkawinan. Hal itu harus dilakukan meskipun harus berhutang kemana-mana. Kalau tidak diadati, maka anak itu akan dipandang kurang beradat.
Yang menjadi pikiran penting adalah keberanian melawan "arus" demi suatu alasan dan masa depan yang lebih baik, meskipun akan menghadapi resiko yang tidak kecil.
Suatu terobosan melawan kebiasaan adat Yahudi, juga dilakukan oleh Yesus demi kebaikan dan kebahagiaan orang lain.
Dalam bacaan Injil Yohanes 5:1-3a,5-16; diceritakan bahwa sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta.
Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.
Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu,
bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah
engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku
menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."
Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya
dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.
Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu:
"Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu."
Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.
Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa
Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia
melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.
Yang menarik dan penting direfleksikan adalah Sikap dan keberanian Yesus melawan adat kebiasaan Yahudi demi keselamatan dan meninggikan martabat manusia. Sikap dan terobosan Yesus patut diteladani oleh semuan orang yang percaya padaNya, asalkan demi keselamatan dan kebahagiaan sesama. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sunday, March 10, 2013
Bukan Percaya Membabi Buta
Ada satu kisah perwira yang percaya kepada Yesus. Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.
Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang."Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya. (Bdk. Yoh 4:43-54)
Perwira itu percaya kepada Yesus karena ia mengenal Yesus meskipun tidak secara langsung melainkan lewat informasi orang lain.
Pertama-tama yang ia lakukan adalah mengetahui Yesus lewat informasi/berita dari orang lain. Kedua, ia mengalami masalah bahwa anaknya sakit. Ketiga, ia datang menghadap dan meminta pertolongan kepada Yesus. Keempat, mendengarkan Sabda Yesus dan percaya. Kelima, keluarganya ikut percaya karena kesaksian si perwira itu.
Untuk percaya, kita perlu mengenal Yesus dengan hati terbuka dalam Kitab Suci. Kita butuh informasi tentang siapa dan apa yang dilakukan Yesus. Lalu kalau kita sudah benar-benar percaya pada Yesus, kita akan melaksanakan perintahNya, dan hidup kita akan penuh rahmat berkelimpahan. Hidup penuh rahmat itu, harus kita bagikan kepada sesama agar mereka juga percaya kepada Yesus, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.
Ini perkara gampang-gampang sulit, namun hati yang terbuka melahirkan iman. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Saturday, March 09, 2013
Ayah Yang Luar Biasa
Sebaliknya, seorang ayah akan marah bila anaknya gagal, jauh ke dalam dunia pesta pora, mabuk-mabuka, main perempuan, meskipun ia sudah berusaha mendidiknya dengan baik.
Mungkin kalau hanya marah, masih lebih baik. Seorang ayah biasanya lebih dari marah, ia bisa bertindak mengusir anak itu, dan tidak mengakui anak itu sebagai anaknya. Logis, karena anak itu sudah mempermalukan keluarga, menyia-nyiakan harta dan perjuangan ayahnya.
Namun ada kisah seorang ayah yang amat berbeda dari kehidupan kita sehari-hari. Seorang ayah menerima dan menyambut anak yang telah menyimpang dari didikannya. Malahan ia merayakan kembalinya anak yang sudah menghabiskan harta orang tua itu.
Ketika anak itu kembali dan mulai mendekati rumah ayahnya, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan
terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita
makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. (Bdk. Luk 15:21-24)
Sungguh ayah yang luar biasa. Gambaran ayah yang demikian, diceritakan Yesus untuk menunjukkan sikap dan kasih Allah kepada manusia yang bertobat. Allah menghendaki umat manusia yang berbuat dosa, kembali ke jalan yang benar, jalan kehidupan, jalan kebahagiaan, jalan sukacita: jalan cinta kasih.
Bagi mereka yang iri atau tidak bisa menerima dengan sikap ayah yang luar biasa tersebut, camkan kata-kata ayah dalam perumpamaan Yesus itu, "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."
Jika kita pernah hilang dan kembali ke jalan yang benar, maka akan ada sukacita besar dalam hidup kita dan sesama. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Friday, March 08, 2013
Pemungut Cukai "Dipuji" Yesus
Iya, perilaku orang sombong seperti itu, sudah ada sejak manusia ada di dunia ini, termasuk pada jaman Yesus. Yesus sendiri menceriterakan kisah orang sombong melalui perumpamaan demikian:
"Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala
penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." (Bdk. Luk 18:10-13)
Mari kita coba merenungkan hidup kita sehari-hari: apakah kita sombong bila lebih kaya, lebih pintar, lebih hebat? Apakah kita merendahkan orang lain bila kita lebih tampan, lebih cantik atau lebih sehat?
Tidak pantaslah kita menyombongkan diri, karena semua milik kita, termasuk nafas hidup kita berasal dari Tuhan, yang harus kita gunakan untuk kebahagiaan, kebaikan dan kemajuan sesama kita. Kesombongan malahan akan menjatuhkan harga diri kita. "Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan".
Kehadiran orang yang rendah hati lebih bersahabat dan menyejukkan ketika kita hendak melihat diri, sesama, lingkungan alam dan bahkan Tuhan Pencipta. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Thursday, March 07, 2013
Memutilasi Kasih
Dari peristiwa itu, kita melihat bahwa ia telah membunuh sesama manusia, merendahkan martabatnya sendiri, membangun budaya kematian, dan membangkitkan amarah kemanusiaan kita. Ia melawan Allah dan mengambil hak Allah.
Jelas sekali, perbuatan Pembunuh tersebut sangat berlawanan dengan logika akalbudi dan hukum universal, yaitu hukum CINTA KASIH SAYANG.
Hukum kasih adalah kasih kepada Allah yang terwujud dalam kasih kepada sesama. Kasih kepada sesama ada bila terlebih dulu ada kasih kepada diri sendiri. Diri sendiri adalah sama dengan manusia yang lain, yang membutuhkan kasih.
Dalam Injil dikatakan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. ." (Bdk. Luk 12: 30-31).
Apakah kita sudah mengasihi diri kita, sesama manusia dan Allah? Kasih kepada diri kita, akan menjadi kasih kepada sesama. Kasih pada diri dan sesama merupakan perwujudan kasih kepada Allah. Amin (pormadi)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Friday, June 22, 2012
Mengumpulkan Harta Surgawi
| Menjadi saksi Kristus dalam perjalanan hidup - dok. pormadi |
Suatu perumpamaan yang sangat menyentuh dan mendalam. Mata adalah salah satu organ penting dalam tubuh kita. Mata merupakan jendela baik untuk melihat ke luar maupun untuk melihat ke dalam. Lewat mata kita dapat melihat apa yang ada di luar kita. Kalau mata kita baik, kita dapat menangkap pemandangan di luar kita dengan jelas. Di lain pihak, lewat mata kita, orang dapat melihat apa yang ada di dalam hati kita. Kalau mata kita merah, orang menangkap bahwa dalam hati kita bergelora kemarahan. Kalau mata kita sembab, orang menangkap bahwa hati kita sedang gundah. Kalau mata kita berbinar-binar, orang menangkap bahwa ada suka cita di dalam hati kita.
Mengingat pentingnya mata, maka kita perlu menjaga dan memanfaatkan mata dengan baik. Mata yang selalu diarahkan kepada hal-hal baik akan mencerminkan kebaikan. Maka, biasakanlah menyimak hal-hal yang baik.
Sebaliknya, mata yang selalu diarahkan kepada hal-hal yang buruk akan
mencerminkan keburukan. Maka, jagalah mata dengan baik, jangan sampai senang
memelototi hal-hal yang tidak baik.
Monday, May 31, 2010
BILA DOA BELUM DIKABULKAN
Ketika sedang mengikuti acara pembinaan rohani di sebuah hotel di pantai Anyer Banten pada akhir Mei 2010 ini, saya tertarik dengan pernyataan-pernyataan atau paparan seorang pastor, Albert Damean, MSC. Kalimat pernyataan itu berbunyi, “Iman bertumbuh bukan karena adanya mukjizat atau kalau doa kita langsung dikabulkan, tetapi percayalah bahwa Tuhan itu setia dalam segala suka dan duka kita”.Kalimat itu menyentuh, dan saya tuliskan besar-besar dicatatanku. Pengalaman selama ini, ketika doa dikabulkan atau terjadi mukjizat dalam hidup seseorang, orang betapa bersemangat berdoa dan hidup, namun jika sebaliknya yang terjadi, doa tidak dikabulkan dan mukjizat tidak terjadi, orang menjadi malas berdoa, putus asa, berontak, dan tidak pernah lagi pergi ke tempat ibadat. Kalimat itu menguatkan saya dalam perjalanan hidup saya.
Sekiranya pun, bila doa kita tidak dikabulkan, maka saya harus bertanya kepada diri sendiri, apakah salah saya? Maka lebih baiklah banyak mengucapkan doa ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan daripada mengutuk atau memberontak.
Bersyukur atas hal-hal kecil yang ada pada hidup kita, atas kesehatan, atas orang tua dan sanak saudara, atas kebaikan orang lain, pekerjaan yang ada, dll, menunjukkan bahwa kita sudah menerima rahmat dan mukjizat dari Tuhan. Ingatlah dan percayalah bahwa Tuhan itu setia dalam suka dan duka kita, meski kita tidak setia. Itu yang saya rasakan. (Pormadi)
Monday, February 08, 2010
BILA DICACIMAKI KARENA PENGIKUT KRISTUS

Alangkah bahagia kamu, kalau dicacimaki karena menjadi pengikut Kristus;
sebab dengan demikian, Roh Kemuliaan, yaitu Roh Allah, ada padamu" (! Ptr
4:13-14
Saya bertanya-tanya, dimana letak kebahagiaan yang diucapkan Petrus dalam suratnya di atas bila mengikuti Kristus dicacimaki?
Monday, November 23, 2009
MENGENAL YESUS BERARTI BERANI BERUBAH
Bahan Bacaan: Matius 11:11-15Saudari/I yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Mengenal atau mengetahui sesuatu berarti harus berani berubah sesuai dengan pengetahuannya itu. Sejauh mana anda, kita mengenal Yesus?
Ada sebuah cerita dari Anton de Mello SJ tentang seorang Komunis (Atheis), seorang ateis yang berubah menjadi Katolik. Temannya si atheis bertanya untuk menguji iman temannya yang sudah menjadi Katolik: selama kamu masuk Katolik: Yesus lahir dimana? Berapa usia ketika Yesus disalibkan? Berapa kali berkhotbah? Orang itu menjadwab: saya tidak tahu dan jawabnya selalu saya tidak tahu.
Kawannya yang sudah jadi katolik berkomentar: bagaimana seperti itu pengikut Kristus? Orang itu menjawab: saya tidak tahu banyak tentang Kristus, namun dulu keluargaku semrawut, mabuk, judi, banyak utang, namun sekarang utang-utangku sudah lunas, berhenti judi dan pemabuk, keluarga jadi bahagia, setiap sore istrinya tidak sabar menanti saya pulang kerja. Itu semua berkat Kristus. Sebanyak itulah saya tahu tentang Kristus. Pesan pencerita adalah : “Mengetahui sesuatu, berarti berani berubah”
Saudara/I dalam Kristus
Bacaan Injil yang kita dengar berbicara tentang pusat iman kita yaitu Yesus Kristus yang diutus Allah. Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Ia lebih besar dari Yohanes Pembaptis. KedatanganNya sendiri dipersiapkan Yohanes Pembaptis agar semua orang bertobat. Namun banyak orang tidak percaya dan tidak mendengarkan Yesus Kristus. Dalam Injil Matius kita mendengar tentang pekerjaan Yesus Kristus yang luar biasa: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.
Untuk kita: apakah kita mengenal Yesus? Ingatlah bahwa mengenal Yesus berarti harus berani berubah menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Paling tidak kita mempunyai iman akan Yesus, Sang Penyelamat dan Sang Penyembuh jiwa manusia. Yesus pernah berkata kepada Bartimeus: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkanmu!” Yesus mengatakan itu setelah Bartimeus sembuh karena mempunyai iman.
Saudara/I dalam Kristus,Bagi kehidupan dan permasalahan kita: pengetahuan kita tidaklah cukup. Imanlah yang menyelamatkan kita. Barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. AMIN.
Tuesday, May 12, 2009
ALLAH DALAM NAMA YESUS KRISTUS MENGUTUS ROH KUDUS
Sumber bacaan: Yoh 14:21-26Thursday, January 15, 2009
Setia dan Segera Mengembangkan Talenta
Setia dan Segera Mengembangkan Talenta
Sumber Bahan Renungan:
Mat 25:14-30 (“Perumpamaan tentang Talenta”)
“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat” (ay. 14-15)
Dari sabda Yesus tersebut, kita dapat melihat bahwa talenta adalah pemberian Tuhan, atau titipan Tuhan, yang dipercayakan kepada manusia. Dengan demikian manusia diberi kepercayaan mememiliki talenta dan ia harus memperlakukan talenta tersebut menurut kehendakNya. Ada yang diberi dalam jumlah besar, sedang dan kecil, ada yang diberi bakat menyanyi, bakat menulis, bakat bermain sepak bola, dan lain sebagainya, sesuai dengan kesanggupan manusia dalam mengembangkan anugerah talenta-talenta tersebut.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Anda, saya, kita semua dipercayakan Tuhan talenta dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. Setelah mempercayakan talenta-talenta tersebut kepada kita, Tuhan memberikan kebebasan kepada kita untuk memperlakukan talenta itu. Kita diberi akal budi, pikiran dan kesanggupan untuk mengelola talenta tersebut.
Seperti hamba-hamba tuan dalam bacaan Injil Matius tadi, “Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya” (Ay. 16-18).
Dari tindakan para hamba itu, kita dapat melihat, seperti hamba yang mana, kita telah memperlakukan talenta yang dipercayakan Tuhan kepada kita? Apakah seperti hamba yang menerima lima dan dua talenta? Atau malahan seperti hamba yang menerima satu talenta, yang menyembunyikan satu-satunya talentanya itu, sehingga tidak membuahkan hasil?
Orang-orang yang mengembangkan talenta adalah mereka yang segera menggunakan akal budi, pikiran, tenaga dan waktu yang ada padanya untuk memperbesar dan mengembangkan anugerah yang diberikan Tuhan. Karena perumpamaan itu berkaitan dengan talenta sebagai mata uang pada zaman itu, maka tindakan mengembangkan talenta oleh penerima lima dan dua talenta digambarkan dengan menjalankan uang atau berdagang. Mereka tidak menyimpan talenta itu tetapi menjalankannya untuk memperoleh keuntungan atau laba.
Kata “segera” menggambarkan ukuran waktu, yaitu bahwa orang yang pandai mengembangkan talenta, tidak membuang-buang waktu tetapi segera bertindak. Mereka segera sadar bahwa waktu sangat penting dan menentukan. Mereka tahu bahwa tuannya akan meminta pertanggungjawaban talenta itu pada waktunya. Mereka bukan tipe manusia dengan sebutan “NATO” (No Action, Talk Only), terlalu banyak omong atau banyak pertimbangan tanpa melakukan tindakannya. Kita sudah menyaksikan bahwa banyak pelajar Indonesia, entah SMP atau SMU memperoleh medali emas dalam perlombaan pengetahuan Fisika, Biologi, atau Matematika di tingkat antar-bangsa atau tingkat internasional. Mereka benar-benar menyadari betapa bakat, pemberian Tuhan kepada mereka, harus segera dikembangkan. Akhirnya, begitu banyak laba dan keuntungan yang diperoleh baik bagi diri sendiri, keluarga maupun bagi bangsa Indonesia.
Tentang hal ini, Benjamin Franklin (1706-1790), mantan presiden Amerika Serika ke-24 mengingatkan, “Apakah Anda mencintai kehidupan? Jangan hamburkan WAKTU karena dari waktu itulah kehidupan dibuat”. Waktu itu sangat berharga bagi mereka yang mencintai kehidupan.
Saudara-saudari yang saya cintai,
Perumpamaan yang disampaikan Yesus kepada murid-muridNya, juga disampaikan kepada kita, agar kita semua menyadari pentingnya kesetiaan dan ke-segera-an untuk memelihara dan mengembangkan berkat atau talenta yang diberikan Tuhan kepada kita. Kesetiaan atau ke-segera-an untuk mengembangkan anugerah dari Tuhan, akan menghasilkan berkat yang lebih besar. Pada waktunya nanti, Tuhan akan meminta pertanggungjawaban dari kita masing-masing atas talenta atau bakat yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Lewat perumpamaan tentang talenta tadi, Tuhan Yesus menghendaki agar iman dan setiap talenta serta kesempatan yang diberikan Tuhan, kita pelihara dan kita kembangkan sesuai dengan kesanggupan kita. Kalau kita tekun dan setia dalam talenta dan berkat yang kecil, Tuhan akan mempercayakan kepada kita hal-hal yang lebih besar. Marilah kita dengan setia dan segera mengembangkan talenta kita, entah bakat menyanyi, bermain sepak bola, mengarang, menari dan lain sebagainya, agar berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan tentu bagi bangsa dan Gereja kita! Semoga Tuhan memberi berkat dan bimbingan kepada kita dalam mengembangkan talenta.
Amin.
(Pormadi Simbolon)
Monday, June 05, 2006
YESUS PENDOA SEJATI
Kamis, 01 Juni 2006
Bacaan: Yoh 17:20-26
Renungan di sebuah lingkungan umat Katolik Jakarta
YESUS PENDOA SEJATI
Horas ma di hita sude. Sai anggiat ma Tuhan i mandongani dohot mangalean pasu-pasu na tu hita ganup marsada-sada.
(Salam sejahtera bagi kita semua. Semoga Tuhan menyertai dan memberikan berkatnya kepada kita satu per satu)
renungan:
Saya punya seorang sahabat, dari Batak. Namanya Jaultop. Dia lucu dan baik. Suatu kali dia tertarik pada seorang gadis cantik bernama Uli. Saking tertariknya, dia berharap gadis itu mau menjadi jodohnya. Bahkan setiap malam ia berdoa meminta agar Uli dijadikan Tuhan menjadi jodohnya.
Dalam doa ia berkata, “ Ya Tuhan berilah aku petunjuk untuk mendapatkan Uli sebagai jodoh yang tepat bagiku..., jika dia jodohku dekatkanlah..., jika dia bukan jodohku maka jadikanlah dia menjadi jodohku..., jika dia jodoh orang lain maka putuskanlah... dan jodohkanlah denganku..., jika dia tidak mau dijodohkan denganku maka jangan berikan dia jodoh sampai dia mau menjadi jodohku..., jika dia masih tidak mau juga..., maka masukkanlah dia ke dalam api nerakaMu. AMIN”
Itulah doa seorang Jaultop. Dari kata-kata dalam doanya, kita tahu dia merupakan orang yang sering berdoa dan doanya mendalam. Sayang doanya kurang tepat. Dalam doa dia memaksa Tuhna untuk menjadikan Uli sebagai jodohnya, bahkan jika Uli sekalipun tidak mau.
Isi:
Saudara/i,
Dalam Injil/ bacaan tadi, kita mendengarkan Yesus sedang berdoa bagi para muridNya. Dalam doa Dia memohon kepada Bapa agar semua orang yang percaya kepadaNya, semuanya menjadi satu, sama seperti Bapa tinggal dalam Dia, dan Dia dalam Bapa, sama seperti Yesus dalam keastuan Allah Bapa, Putera dan Allah Roh Kudus. Juga dalam doanya Yesus memohon kepada Bapa, katanya, “ya Bapa, Aku mau supaya, dimanapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku”
Kita bisa melihat bahwa Yesus adalah pendoa sejati. Dalam seluruh hidupnya Ia tetap berada dalam kesatuan cinta kasih Allah Bapa, dan Roh Kudus. DoaNya pun memancarkan dan berisikan cinta kasih kepada Bapa dan umatNya. Dia tidak memikirkan kemuliaanNya sendiri, tetapi juga kemuliaan bagi umatNya. Dalam doaNya, Dia pernah meminta Bapa mengutus Roh Kudus, Roh Kebenaran untuk menyertai para murid dan umatNya untuk selama-lamanya (Yoh 14:16).
Saudara/i,
Hari-hari menjelang Hari Pentekosta, kita sedang mengadakan Novena Roh Kudus. Pada kesempatan ini, kita memohon agar Roh Kudus turun atas kita untuk membimbing kita dalam hidup agar semakin bijaksana, untuk memberi kekuatan, untuk menyertai kita dan memelihara kesatuan umat dalam cinta kasih. Juga kita mohon Roh Kudus agar menerangi kehendak Tuhan bagi kita, sehingga kita tidak memaksakan kehendak kita pada Tuhan seperti Jaultop tadi.
Saudara/i,
Dalam hidup sehari-hari, kita tetap menggantungkan diri pada Tuhan. “Jadilah kehendakMu, di atas bumi seperti di dalam surga”, itulah doa kita setiap kali kita mengucapkan doa Bapa Kami. Contohnya, jika Tuhan menghendaki umur hidup kita panjang, syukur kita ucapkan. Jika umur hidup kita pendek, kita ucapkan syukur juga. Jangan seperti kisah seorang suami yang takut pada Malaikat Maut ini.
Ada seorang suami sedang sekarat menunggu ajal tiba, dan berkata pada istrinya tercinta yang berada di sampingnya:
Suami : Istriku, aku ingin berkata hal penting padamu.
Istri : Tentang apa suamiku...?
Suami : Berdandanlah kamu saat ini juga, kenakan semua milikmu yang terbaik
dan termahal untuk aku sayang.
Istri : Memang ada apa suamiku...?
Suami : Aku melihat Malaikat Maut sedang memandangku, jika kamu berdandan
yang cantik, siapa tahu dia akan melirikmu dan mengajak kamu pergi saat ini serta melupakan aku.
Istri : Memangnya Malaikat Maut-nya mata keranjang seperti kamu...?
Saudara/i,
Marilah pada masa novena Roh Kudus ini, kita belajar berdoa seperti Yesus. Yesus berdoa demi kebaikan, kesejahteraan dan kesatuan umat dalam cinta kasih. Semoga Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus menyertai kita. AMIN
*******