Seorang murid pergi ke sekolah tentu bertujuan agar merdeka alias berubah dari kebodohan menjadi pintar, dari ketidaktahuan menjadi tahu.
Demikian juga seorang murid beladiri dalam mempelajari beladiri dari pelatih/guru. Murid belajar dari guru, melihat, mendengar, melaksanakan semua yang disampaikan guru demi memperoleh pembebasan dari tidak mampu beladiri, menjadi mampu.
Suatu kali peristiwa, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (bdk Yoh 8:31-32)
Maka berangkat dari sabda Yesus, jika kita beralih dari firman-Nya, kita benar-benar bukan murid-Nya, dan kita tidak akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu tidak memerdekaan kita.
Maka menjadi penting soal KEMURIDAN dalam relasi kita dengan Yesus. Menjadi murid Yesus, adalah sikap taat, patuh, disiplin, dalam mempelajari Firman Sang Guru. Sebab Yesus, Sang Guru, adalah Jalan Kebenaran dan Kehidupan bagi murid-muridNya. Sabda itu adalah Allah yang menjelma menjadi daging dalam diri Yesus Kristus.
Sudah tentu, bila kita sebagai murid tidak belajar lagi dari Yesus maka kita akan menjauh dari Jalan, Kebenaran dan Kehidupan. Yang ada adalah kesesatan, ketidakbenaran, dan kematian.
"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Showing posts with label katolik. Show all posts
Showing posts with label katolik. Show all posts
Wednesday, March 20, 2013
Menjadi Murid Sejati
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
murid sejati,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Monday, March 18, 2013
Ketulusan Hati
Memberi dengan tulus akan membawa kebahagiaan baik bagi si penerima maupun is pemberi. Sebaliknya, pemberian dengan berat hati membawa ketidakenakan di hati.
Demikianlah, jika bekerja dan melayani entah dalam keluarga, kantor dan masyarakat sekitar, akan membawa kepuasan dan kebahagiaan tersendiri serta hasil pelayanan yang optimal. Namun jika tidak tulus, pelayanan kita tidak optimal, dan dilakukan dengan berat hati.
Ketulusan hati adalah kelurusan hati, kesucian hati, tanpa motif apapun, hanya demi sesuatu yang lebih tinggi, antara lain demi kemuliaan Tuhan dan demi kebahagiaan semua orang.
Ketlusan ini dapat kita jumpai dalam diri Yusuf, suami Maria. Maria sudah mengandung Yesus dari Roh Kudus, padahal mereka belum melakukan hubungan jasmani.
Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam." (Bdk. Mat 1:19). Yusuf mulai bingung dan gelisah, namun Tuhan melalui caranya memberitahu Yusuf bahwa anak itu adalah Yesus, Penyelamat manusia. Yusuf pun menjadi tenang, dan memimpin keluarganya, Maria dan Yesus. Ia mendidik Yesus sampai besar.
Buah dari keutulusannya adalah karya keselamatan Allah tetap berjalan, umat manusia bersorak-sorai karena Sang Penyelamat Manusia telah lahir ke dunia.
Apakah kita sudah tulus hati sebagai ibu atau ayah dalam keluarga? Apakah kita sudah bekerja dengan tulus? Lebih jauh, apakah kita sudah memberikan dan mempersembahkan hidup kita dengan tulus untuk kemuliaan Allah? Amin
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Demikianlah, jika bekerja dan melayani entah dalam keluarga, kantor dan masyarakat sekitar, akan membawa kepuasan dan kebahagiaan tersendiri serta hasil pelayanan yang optimal. Namun jika tidak tulus, pelayanan kita tidak optimal, dan dilakukan dengan berat hati.
Ketulusan hati adalah kelurusan hati, kesucian hati, tanpa motif apapun, hanya demi sesuatu yang lebih tinggi, antara lain demi kemuliaan Tuhan dan demi kebahagiaan semua orang.
Ketlusan ini dapat kita jumpai dalam diri Yusuf, suami Maria. Maria sudah mengandung Yesus dari Roh Kudus, padahal mereka belum melakukan hubungan jasmani.
Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam." (Bdk. Mat 1:19). Yusuf mulai bingung dan gelisah, namun Tuhan melalui caranya memberitahu Yusuf bahwa anak itu adalah Yesus, Penyelamat manusia. Yusuf pun menjadi tenang, dan memimpin keluarganya, Maria dan Yesus. Ia mendidik Yesus sampai besar.
Buah dari keutulusannya adalah karya keselamatan Allah tetap berjalan, umat manusia bersorak-sorai karena Sang Penyelamat Manusia telah lahir ke dunia.
Apakah kita sudah tulus hati sebagai ibu atau ayah dalam keluarga? Apakah kita sudah bekerja dengan tulus? Lebih jauh, apakah kita sudah memberikan dan mempersembahkan hidup kita dengan tulus untuk kemuliaan Allah? Amin
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
ketulusan hati,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Sunday, March 17, 2013
Barangsiapa Tidak Berdosa, Hendaklah Ia Melemparkan Batu kepada Perempuan itu!
Kita kerapkali pertama-tama melihat kesalahan orang lain. Kesalahan itu kerap kita nilai jadi cap negatif atas keseluruhan diri dan hidup mereka. Cap negatif itu menutupi semua perbuatan baik yang pernah dilakukan mereka.
Untuk itu, kita juga perlu instrospeksi diri, agar kita tidak langsung menilai orang hanya dari suatu kesalahan saja.
Hal ini Yesus peringatkan kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat.
Suatu hari "Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan."
Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."(Bdk. Yoh 8:1-11)
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Inilah kata-kata Yesus yang langsung mengena dan memperingatkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua.
Apakah kita sudah melihat sikap dan perbuatan kita sebelum mencap orang lain negatif dan jelek? Apakah kita sudah memperbaiki diri lebih dulu sebelum memperbaiki diri orang lain? Perbaikan diri dan pertobatan harus dimulai dari diri, keluarga kita, baru kemudian orang lain. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Untuk itu, kita juga perlu instrospeksi diri, agar kita tidak langsung menilai orang hanya dari suatu kesalahan saja.
Hal ini Yesus peringatkan kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat.
Suatu hari "Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan."
Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."(Bdk. Yoh 8:1-11)
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Inilah kata-kata Yesus yang langsung mengena dan memperingatkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua.
Apakah kita sudah melihat sikap dan perbuatan kita sebelum mencap orang lain negatif dan jelek? Apakah kita sudah memperbaiki diri lebih dulu sebelum memperbaiki diri orang lain? Perbaikan diri dan pertobatan harus dimulai dari diri, keluarga kita, baru kemudian orang lain. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Pergilah, dan Jangan Berbuat Dosa Lagi
Tidak jarang, kita memandang rendah orang miskin-tersingkir, sakit-cacat, kecil-lemah. Terkadang jijik melihat pengemis dan sakit di pinggir jalan. Mereka sering dikejar-kejar petugas, menjadi korban penipuan orang lain, dan harus berjuang untuk hidup.
Lebih parah lagi, apabila mereka ini tertangkap basah mencuri, atau melanggar hukum, pasti hukumannya lebih berat dibanding dengan hukuman para koruptor kelas kakap.
Namun berbeda dengan sikap Yesus, terhadap seorang perempuan yang ketahuan berbuat zinah. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi berpendapat bahwa perempuan tersebut harus dilempari batu.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa perempuan berzinah itu kepada Yesus, untuk menguji "kemampuan" Yesus sekaligus untuk menjebakNya agar jatuh pada suatu kesalahan yaitu melanggar hukum Taurat.
Suatu kali Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang
kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang
perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan
jari-Nya di tanah.
Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit
berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak
berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua.
Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, dimanakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Bdk. Yohanes 8:1-11)
Yesus tidak memandang rendah orang kecil-lemah, miskin-tersingkir dan sakit-cacat, seperti si permempuan zinah tersebut. Yesus juga tidak melanggar hukum Taurat yang ditampilkan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.
Yesus tetap menghormati pribadi manusia, hukum Taurat dan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus tidak terjebak jatuh pada perangkap pelanggaran hukum.
Lebih jauh, Yesus juga tidak melawan kehendak BapaNya untuk menyelamatkan semua orang. Semua orang dipanggil untuk diselamatkan Allah, dengan syarat manusia harus menanggapi panggilanNya. Kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
AMIN.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Lebih parah lagi, apabila mereka ini tertangkap basah mencuri, atau melanggar hukum, pasti hukumannya lebih berat dibanding dengan hukuman para koruptor kelas kakap.
Namun berbeda dengan sikap Yesus, terhadap seorang perempuan yang ketahuan berbuat zinah. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi berpendapat bahwa perempuan tersebut harus dilempari batu.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa perempuan berzinah itu kepada Yesus, untuk menguji "kemampuan" Yesus sekaligus untuk menjebakNya agar jatuh pada suatu kesalahan yaitu melanggar hukum Taurat.
Suatu kali Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang
kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang
perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan
jari-Nya di tanah.
Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit
berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak
berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua.
Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, dimanakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Bdk. Yohanes 8:1-11)
Yesus tidak memandang rendah orang kecil-lemah, miskin-tersingkir dan sakit-cacat, seperti si permempuan zinah tersebut. Yesus juga tidak melanggar hukum Taurat yang ditampilkan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.
Yesus tetap menghormati pribadi manusia, hukum Taurat dan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus tidak terjebak jatuh pada perangkap pelanggaran hukum.
Lebih jauh, Yesus juga tidak melawan kehendak BapaNya untuk menyelamatkan semua orang. Semua orang dipanggil untuk diselamatkan Allah, dengan syarat manusia harus menanggapi panggilanNya. Kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
AMIN.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Saturday, March 16, 2013
Berani Membela yang Benar
Membela yang benar dan mengatakan yang salah tidak gampang, apalagi kalau hal itu menyangkut kepentingan penguasa maupun pengusaha. Penguasa dan penguasa dengan segala sumberdayanya bisa membalikkan fakta, yang benar jadi salah, yang salah jadi benar.
Demikian pula yang terjadi kepada Nikodemus dan yang lain yang membela Yesus.
Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan
perkataan-perkataan Yesus, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan
datang." Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata:
"Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal."
Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada
seorangpun yang berani menyentuh-Nya.
Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang
Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?"
Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!"
Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga
disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah
mereka!"
Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya,
berkata kepada mereka: "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan
sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?"
Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea." Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya, (Bdk. Yohanes 7:40-53)
Membela dan mengatakan yang benar harus memiliki keberanian menanggung resiko dan dengan jiwa yang besar bersaksi tentang yang benar dengan segala argumen yang sesuai fakta. Apakah kita berani mengatakan kebenaran dalam berhadapan dengan penguasa dan pengusaha? Amin
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Demikian pula yang terjadi kepada Nikodemus dan yang lain yang membela Yesus.
Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan
perkataan-perkataan Yesus, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan
datang." Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata:
"Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal."
Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada
seorangpun yang berani menyentuh-Nya.
Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang
Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?"
Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!"
Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga
disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah
mereka!"
Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya,
berkata kepada mereka: "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan
sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?"
Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea." Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya, (Bdk. Yohanes 7:40-53)
Membela dan mengatakan yang benar harus memiliki keberanian menanggung resiko dan dengan jiwa yang besar bersaksi tentang yang benar dengan segala argumen yang sesuai fakta. Apakah kita berani mengatakan kebenaran dalam berhadapan dengan penguasa dan pengusaha? Amin
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Thursday, March 14, 2013
Beriman itu Tidak Gampang
Ketika eksistensi dan keyakinan kita dilecehkan atau dihina orang lain, di saat itulah muncul ekspresi marah. Kita akan sangat marah bila ternyata harapan kita tidak sesuai dengan keyakinan kita.
Hal yang sama terjadi pada orang Yahudi, ketika Yesus memberi kesaksian bahwa Ia diutus BapaNya. . Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap
tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk
membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.
Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau
bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal-Nya."
Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: "Memang Aku kamu kenal
dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku."
Orang-orang Yahudi berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Bdk.Yohanes 7:1-2,10,25-30)
Melihat kesaksianNya, Yesus yang berasal dari Nasaret, anak tukang kayu adalah Kristus, Penyelamat yang diutus ke tengah dunia. Karena asal dan statusnya sederhana, terlebih lagi, Ia mengaku diutus Allah, menambah kemarahan orang Yahudi. Kristus yang diyakini mereka bukan seperti Yesus anak tukang kayu dari Nasaret. Maka, orang Yahudi berencana membunuh Yesus di saat waktunya tiba.
Berkata bahwa Yesus adalah Penyelamatku, itu gampang. Namun, berkata bahwa Yesus adalah Penyelamatku, Guru, Jalan, Hidup dan Kebenaran secara meyakinkan dan penuh daya kekuatan di dalam diri kita, itu tidak gampang. Untuk itu, relasi personal dan pengalaman akan Allah perlu dibangun dan dimohonkan kepadaNya, agar iman kita benar berdaya dahsyat di dalam perbuatan baik kita. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Hal yang sama terjadi pada orang Yahudi, ketika Yesus memberi kesaksian bahwa Ia diutus BapaNya. . Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap
tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk
membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.
Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau
bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal-Nya."
Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: "Memang Aku kamu kenal
dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku."
Orang-orang Yahudi berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Bdk.Yohanes 7:1-2,10,25-30)
Melihat kesaksianNya, Yesus yang berasal dari Nasaret, anak tukang kayu adalah Kristus, Penyelamat yang diutus ke tengah dunia. Karena asal dan statusnya sederhana, terlebih lagi, Ia mengaku diutus Allah, menambah kemarahan orang Yahudi. Kristus yang diyakini mereka bukan seperti Yesus anak tukang kayu dari Nasaret. Maka, orang Yahudi berencana membunuh Yesus di saat waktunya tiba.
Berkata bahwa Yesus adalah Penyelamatku, itu gampang. Namun, berkata bahwa Yesus adalah Penyelamatku, Guru, Jalan, Hidup dan Kebenaran secara meyakinkan dan penuh daya kekuatan di dalam diri kita, itu tidak gampang. Untuk itu, relasi personal dan pengalaman akan Allah perlu dibangun dan dimohonkan kepadaNya, agar iman kita benar berdaya dahsyat di dalam perbuatan baik kita. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Wednesday, March 13, 2013
Datanglah kepada Yesus, maka Kamu Hidup!
Dalam etika birokrasi, setiap bawahan harus datang kepada atasannya baik untuk berkonsultasi maupun melaporkan hasil pekerjaan. Atasan juga memberi masukan, bawahan melaksanakan pekerjaan dengan baik, agar pelayanan kantor berjalan dengan baik, para pegawai juga semakin hidup.
Analogi demikian mungkin bisa menggambarkan relasi kita yang lebih mesra dengan Yesus Kristus sebagai Utusan Allah atau Putera Bapa. Bedanya dengan relasi atasan bawahan pada birokrasi adalah soal punishment dan reward. Dalam relasi dengan Yesus, meskipun manusia tidak setia, Ia tetap setia untuk menyelamatkan umat manusia.
Pertanyaan mendasar bagi semua orang yang mengaku beriman kepada Yesus, apakah kita selalu datang kepada-Nya untuk berkonsultasi sebelum bertugas setiap hari, dan lalu bersyukur atas hidup serta melaporkan karya kehidupan kita. Dan memohon ampun atas kekurangan kita sepanjang hari?
Secara jujur, jawaban kita atas pertanyaan tersebut tentu belum sepenuhnya bisa melaksanakannya. Sebab, meskipun kita tahu tentang jati diri Yesus dari berbagai sumber, antara lain Kitab Suci, namun kita belum datang kepadaNya untuk menimba kekuatan hidup, malahan kita lebih mengandalkan kekuatan sendiri.
Hal ini ditegaskan Yesus kepada orang Yahudi di jamanNya, "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. (Bdk. Yoh 5:39-40)
Supaya kita memperoleh kekuatan dalam hidup dan hidup yang kekal, maka marilah kita datang kepada Yesus Kristus, membangun relasi dan memohon pengalaman akan Allah. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Analogi demikian mungkin bisa menggambarkan relasi kita yang lebih mesra dengan Yesus Kristus sebagai Utusan Allah atau Putera Bapa. Bedanya dengan relasi atasan bawahan pada birokrasi adalah soal punishment dan reward. Dalam relasi dengan Yesus, meskipun manusia tidak setia, Ia tetap setia untuk menyelamatkan umat manusia.
Pertanyaan mendasar bagi semua orang yang mengaku beriman kepada Yesus, apakah kita selalu datang kepada-Nya untuk berkonsultasi sebelum bertugas setiap hari, dan lalu bersyukur atas hidup serta melaporkan karya kehidupan kita. Dan memohon ampun atas kekurangan kita sepanjang hari?
Secara jujur, jawaban kita atas pertanyaan tersebut tentu belum sepenuhnya bisa melaksanakannya. Sebab, meskipun kita tahu tentang jati diri Yesus dari berbagai sumber, antara lain Kitab Suci, namun kita belum datang kepadaNya untuk menimba kekuatan hidup, malahan kita lebih mengandalkan kekuatan sendiri.
Hal ini ditegaskan Yesus kepada orang Yahudi di jamanNya, "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. (Bdk. Yoh 5:39-40)
Supaya kita memperoleh kekuatan dalam hidup dan hidup yang kekal, maka marilah kita datang kepada Yesus Kristus, membangun relasi dan memohon pengalaman akan Allah. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Tuesday, March 12, 2013
Yesus Sama seperti Bapa-Nya
Seorang anak paling tidak belajar banyak hal dari ayah atau ibunya. Anak bisa melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Tak jarang ayah sendiri akan mendidik dan mengajarkan banyak hal, antara lain cara hidup, cara bekerja dan adat-istiadat.
Demikian juga halnya dengan Yesus sebagai anak Allah. Yesus sendiri memberi kesaksian tentang pekerjaan dan "pelajaran" yang diajarkan BapaNya.
Inilaah keskasian Yesus tentang diriNya dan BapaNya: (1) "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka
Akupun bekerja juga."
(2)"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak,
(3) Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.
(4) Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan
menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang
dikehendaki-Nya.
(5) Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,
(6) Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka meng-hormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.
(6) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan
tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
(7) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.
(8) Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
(9) Penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Bdk. Yohanes 5:17-30)
Kesaksian ini menunjukkan siapa Yesus yang sebenarNya. Yesus adalah HAKIM yang adil atas orang hidup dan orang mati. Yang lebih hebat lagi, seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan Yesus mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
Sudahkah anda benar-benar PERCAYA kepada YESUS dan kepada Yang mengutusNya? AMIN.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Demikian juga halnya dengan Yesus sebagai anak Allah. Yesus sendiri memberi kesaksian tentang pekerjaan dan "pelajaran" yang diajarkan BapaNya.
Inilaah keskasian Yesus tentang diriNya dan BapaNya: (1) "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka
Akupun bekerja juga."
(2)"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak,
(3) Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.
(4) Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan
menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang
dikehendaki-Nya.
(5) Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,
(6) Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka meng-hormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.
(6) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan
tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
(7) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.
(8) Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
(9) Penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Bdk. Yohanes 5:17-30)
Kesaksian ini menunjukkan siapa Yesus yang sebenarNya. Yesus adalah HAKIM yang adil atas orang hidup dan orang mati. Yang lebih hebat lagi, seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan Yesus mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
Sudahkah anda benar-benar PERCAYA kepada YESUS dan kepada Yang mengutusNya? AMIN.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Berani Melawan Arus
Seorang pemuda rela meninggalkan adat yang kurang relevan dengan zamannya. Ia tidak mau melakukan pesta adat pernikahan yang memboroskan banyak uang, sementara ekonominya pas-pasan. Ia berpendapat bahwa cukuplah pernikahan disahkan secara agama di hadapan Tuhan.
Adat orang tua pada suku tertentu mengharuskan anaknya melakukan pesta adat pernikahan setelah melaksanakan acara pemberkatan perkawinan. Hal itu harus dilakukan meskipun harus berhutang kemana-mana. Kalau tidak diadati, maka anak itu akan dipandang kurang beradat.
Yang menjadi pikiran penting adalah keberanian melawan "arus" demi suatu alasan dan masa depan yang lebih baik, meskipun akan menghadapi resiko yang tidak kecil.
Suatu terobosan melawan kebiasaan adat Yahudi, juga dilakukan oleh Yesus demi kebaikan dan kebahagiaan orang lain.
Dalam bacaan Injil Yohanes 5:1-3a,5-16; diceritakan bahwa sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta.
Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.
Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu,
bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah
engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku
menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."
Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya
dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.
Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu:
"Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu."
Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.
Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa
Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia
melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.
Yang menarik dan penting direfleksikan adalah Sikap dan keberanian Yesus melawan adat kebiasaan Yahudi demi keselamatan dan meninggikan martabat manusia. Sikap dan terobosan Yesus patut diteladani oleh semuan orang yang percaya padaNya, asalkan demi keselamatan dan kebahagiaan sesama. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Adat orang tua pada suku tertentu mengharuskan anaknya melakukan pesta adat pernikahan setelah melaksanakan acara pemberkatan perkawinan. Hal itu harus dilakukan meskipun harus berhutang kemana-mana. Kalau tidak diadati, maka anak itu akan dipandang kurang beradat.
Yang menjadi pikiran penting adalah keberanian melawan "arus" demi suatu alasan dan masa depan yang lebih baik, meskipun akan menghadapi resiko yang tidak kecil.
Suatu terobosan melawan kebiasaan adat Yahudi, juga dilakukan oleh Yesus demi kebaikan dan kebahagiaan orang lain.
Dalam bacaan Injil Yohanes 5:1-3a,5-16; diceritakan bahwa sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta.
Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.
Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu,
bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah
engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku
menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."
Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya
dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.
Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu:
"Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu."
Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.
Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa
Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia
melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.
Yang menarik dan penting direfleksikan adalah Sikap dan keberanian Yesus melawan adat kebiasaan Yahudi demi keselamatan dan meninggikan martabat manusia. Sikap dan terobosan Yesus patut diteladani oleh semuan orang yang percaya padaNya, asalkan demi keselamatan dan kebahagiaan sesama. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Sunday, March 10, 2013
Bukan Percaya Membabi Buta
Kita tidak gampang percaya dengan orang lain. Kita butuh sesuatu bukti atau pengenalan akan seseorang maka kita berani percaya.
Ada satu kisah perwira yang percaya kepada Yesus. Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.
Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang."Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya. (Bdk. Yoh 4:43-54)
Perwira itu percaya kepada Yesus karena ia mengenal Yesus meskipun tidak secara langsung melainkan lewat informasi orang lain.
Pertama-tama yang ia lakukan adalah mengetahui Yesus lewat informasi/berita dari orang lain. Kedua, ia mengalami masalah bahwa anaknya sakit. Ketiga, ia datang menghadap dan meminta pertolongan kepada Yesus. Keempat, mendengarkan Sabda Yesus dan percaya. Kelima, keluarganya ikut percaya karena kesaksian si perwira itu.
Untuk percaya, kita perlu mengenal Yesus dengan hati terbuka dalam Kitab Suci. Kita butuh informasi tentang siapa dan apa yang dilakukan Yesus. Lalu kalau kita sudah benar-benar percaya pada Yesus, kita akan melaksanakan perintahNya, dan hidup kita akan penuh rahmat berkelimpahan. Hidup penuh rahmat itu, harus kita bagikan kepada sesama agar mereka juga percaya kepada Yesus, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.
Ini perkara gampang-gampang sulit, namun hati yang terbuka melahirkan iman. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Ada satu kisah perwira yang percaya kepada Yesus. Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.
Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang."Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya. (Bdk. Yoh 4:43-54)
Perwira itu percaya kepada Yesus karena ia mengenal Yesus meskipun tidak secara langsung melainkan lewat informasi orang lain.
Pertama-tama yang ia lakukan adalah mengetahui Yesus lewat informasi/berita dari orang lain. Kedua, ia mengalami masalah bahwa anaknya sakit. Ketiga, ia datang menghadap dan meminta pertolongan kepada Yesus. Keempat, mendengarkan Sabda Yesus dan percaya. Kelima, keluarganya ikut percaya karena kesaksian si perwira itu.
Untuk percaya, kita perlu mengenal Yesus dengan hati terbuka dalam Kitab Suci. Kita butuh informasi tentang siapa dan apa yang dilakukan Yesus. Lalu kalau kita sudah benar-benar percaya pada Yesus, kita akan melaksanakan perintahNya, dan hidup kita akan penuh rahmat berkelimpahan. Hidup penuh rahmat itu, harus kita bagikan kepada sesama agar mereka juga percaya kepada Yesus, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.
Ini perkara gampang-gampang sulit, namun hati yang terbuka melahirkan iman. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Saturday, March 09, 2013
Ayah Yang Luar Biasa
Dalam hidup sehari-hari, seorang ayah akan bangga bila anaknya berperilaku baik dan sukses dalam pekerjaan. Ia bangga karena berhasil mendidiknya dengan baik.
Sebaliknya, seorang ayah akan marah bila anaknya gagal, jauh ke dalam dunia pesta pora, mabuk-mabuka, main perempuan, meskipun ia sudah berusaha mendidiknya dengan baik.
Mungkin kalau hanya marah, masih lebih baik. Seorang ayah biasanya lebih dari marah, ia bisa bertindak mengusir anak itu, dan tidak mengakui anak itu sebagai anaknya. Logis, karena anak itu sudah mempermalukan keluarga, menyia-nyiakan harta dan perjuangan ayahnya.
Namun ada kisah seorang ayah yang amat berbeda dari kehidupan kita sehari-hari. Seorang ayah menerima dan menyambut anak yang telah menyimpang dari didikannya. Malahan ia merayakan kembalinya anak yang sudah menghabiskan harta orang tua itu.
Ketika anak itu kembali dan mulai mendekati rumah ayahnya, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan
terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita
makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. (Bdk. Luk 15:21-24)
Sungguh ayah yang luar biasa. Gambaran ayah yang demikian, diceritakan Yesus untuk menunjukkan sikap dan kasih Allah kepada manusia yang bertobat. Allah menghendaki umat manusia yang berbuat dosa, kembali ke jalan yang benar, jalan kehidupan, jalan kebahagiaan, jalan sukacita: jalan cinta kasih.
Bagi mereka yang iri atau tidak bisa menerima dengan sikap ayah yang luar biasa tersebut, camkan kata-kata ayah dalam perumpamaan Yesus itu, "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."
Jika kita pernah hilang dan kembali ke jalan yang benar, maka akan ada sukacita besar dalam hidup kita dan sesama. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sebaliknya, seorang ayah akan marah bila anaknya gagal, jauh ke dalam dunia pesta pora, mabuk-mabuka, main perempuan, meskipun ia sudah berusaha mendidiknya dengan baik.
Mungkin kalau hanya marah, masih lebih baik. Seorang ayah biasanya lebih dari marah, ia bisa bertindak mengusir anak itu, dan tidak mengakui anak itu sebagai anaknya. Logis, karena anak itu sudah mempermalukan keluarga, menyia-nyiakan harta dan perjuangan ayahnya.
Namun ada kisah seorang ayah yang amat berbeda dari kehidupan kita sehari-hari. Seorang ayah menerima dan menyambut anak yang telah menyimpang dari didikannya. Malahan ia merayakan kembalinya anak yang sudah menghabiskan harta orang tua itu.
Ketika anak itu kembali dan mulai mendekati rumah ayahnya, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan
terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita
makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. (Bdk. Luk 15:21-24)
Sungguh ayah yang luar biasa. Gambaran ayah yang demikian, diceritakan Yesus untuk menunjukkan sikap dan kasih Allah kepada manusia yang bertobat. Allah menghendaki umat manusia yang berbuat dosa, kembali ke jalan yang benar, jalan kehidupan, jalan kebahagiaan, jalan sukacita: jalan cinta kasih.
Bagi mereka yang iri atau tidak bisa menerima dengan sikap ayah yang luar biasa tersebut, camkan kata-kata ayah dalam perumpamaan Yesus itu, "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."
Jika kita pernah hilang dan kembali ke jalan yang benar, maka akan ada sukacita besar dalam hidup kita dan sesama. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Friday, March 08, 2013
Pemungut Cukai "Dipuji" Yesus
Orang sombong selalu memandang dan merasa diri lebih tinggi dibandingkan yang lain. Ketika berbicara di depan orang banyak, ia akan melihat dirinya lebih tahu banyak hal atau menonjolkan perhiasan yang dikenakannya. Ketika berdoa kepada Tuhan, ia pasti akan meninggikan dirinya di hadapan Tuhan dengan membandingkan dirinya sebagai orang yang lebih baik dalam segala hal dibandingkan orang lain.
Iya, perilaku orang sombong seperti itu, sudah ada sejak manusia ada di dunia ini, termasuk pada jaman Yesus. Yesus sendiri menceriterakan kisah orang sombong melalui perumpamaan demikian:
"Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala
penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." (Bdk. Luk 18:10-13)
Mari kita coba merenungkan hidup kita sehari-hari: apakah kita sombong bila lebih kaya, lebih pintar, lebih hebat? Apakah kita merendahkan orang lain bila kita lebih tampan, lebih cantik atau lebih sehat?
Tidak pantaslah kita menyombongkan diri, karena semua milik kita, termasuk nafas hidup kita berasal dari Tuhan, yang harus kita gunakan untuk kebahagiaan, kebaikan dan kemajuan sesama kita. Kesombongan malahan akan menjatuhkan harga diri kita. "Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan".
Kehadiran orang yang rendah hati lebih bersahabat dan menyejukkan ketika kita hendak melihat diri, sesama, lingkungan alam dan bahkan Tuhan Pencipta. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Iya, perilaku orang sombong seperti itu, sudah ada sejak manusia ada di dunia ini, termasuk pada jaman Yesus. Yesus sendiri menceriterakan kisah orang sombong melalui perumpamaan demikian:
"Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala
penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." (Bdk. Luk 18:10-13)
Mari kita coba merenungkan hidup kita sehari-hari: apakah kita sombong bila lebih kaya, lebih pintar, lebih hebat? Apakah kita merendahkan orang lain bila kita lebih tampan, lebih cantik atau lebih sehat?
Tidak pantaslah kita menyombongkan diri, karena semua milik kita, termasuk nafas hidup kita berasal dari Tuhan, yang harus kita gunakan untuk kebahagiaan, kebaikan dan kemajuan sesama kita. Kesombongan malahan akan menjatuhkan harga diri kita. "Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan".
Kehadiran orang yang rendah hati lebih bersahabat dan menyejukkan ketika kita hendak melihat diri, sesama, lingkungan alam dan bahkan Tuhan Pencipta. AMIN
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Thursday, March 07, 2013
Memutilasi Kasih
Pada awal Maret 2013, masyarakat kita dikejutkan dengan peristiwa mutilasi tubuh manusia. Seoran laki-laki, bernama Benget Situmorang(35) pedagang soto bersama Tini, yang diduga sebagai istri simpanannya bekerja sama memutilasi tubuh istrinya, Darna Sri Astuti, menjadi kurang lebih lima potong dengan alasan cemburu di kawasan Ciracas Jakarta Timur. Untuk menghilangkan jejak dan rupa istrinya, potongan tubuh istrinya itu di buang di tol Cikampek menuju Bekasi di pagi hari dengan menggunakan mobil angkot. Kejadian itu sempat tidak terlacak polisi, namun karena ada orang melihat potongan yang ditaruh di plastik tersebut jatuh atau dibuang di jalan. Orang itu mengira barang jatuh, dan mengingatkan sopir angkot. Awalnya tidak curiga, namun setelah mendengar berita di media massa, akhirnya saksi mata melaporkan peristiwa tersebut ke kepolisian Jakarta Timur.
Dari peristiwa itu, kita melihat bahwa ia telah membunuh sesama manusia, merendahkan martabatnya sendiri, membangun budaya kematian, dan membangkitkan amarah kemanusiaan kita. Ia melawan Allah dan mengambil hak Allah.
Jelas sekali, perbuatan Pembunuh tersebut sangat berlawanan dengan logika akalbudi dan hukum universal, yaitu hukum CINTA KASIH SAYANG.
Hukum kasih adalah kasih kepada Allah yang terwujud dalam kasih kepada sesama. Kasih kepada sesama ada bila terlebih dulu ada kasih kepada diri sendiri. Diri sendiri adalah sama dengan manusia yang lain, yang membutuhkan kasih.
Dalam Injil dikatakan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. ." (Bdk. Luk 12: 30-31).
Apakah kita sudah mengasihi diri kita, sesama manusia dan Allah? Kasih kepada diri kita, akan menjadi kasih kepada sesama. Kasih pada diri dan sesama merupakan perwujudan kasih kepada Allah. Amin (pormadi)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dari peristiwa itu, kita melihat bahwa ia telah membunuh sesama manusia, merendahkan martabatnya sendiri, membangun budaya kematian, dan membangkitkan amarah kemanusiaan kita. Ia melawan Allah dan mengambil hak Allah.
Jelas sekali, perbuatan Pembunuh tersebut sangat berlawanan dengan logika akalbudi dan hukum universal, yaitu hukum CINTA KASIH SAYANG.
Hukum kasih adalah kasih kepada Allah yang terwujud dalam kasih kepada sesama. Kasih kepada sesama ada bila terlebih dulu ada kasih kepada diri sendiri. Diri sendiri adalah sama dengan manusia yang lain, yang membutuhkan kasih.
Dalam Injil dikatakan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. ." (Bdk. Luk 12: 30-31).
Apakah kita sudah mengasihi diri kita, sesama manusia dan Allah? Kasih kepada diri kita, akan menjadi kasih kepada sesama. Kasih pada diri dan sesama merupakan perwujudan kasih kepada Allah. Amin (pormadi)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama katolik,
iman,
katolik,
refleksi pribadi,
renungan harian,
renungan Katolik,
renungan pribadi
Wednesday, June 27, 2012
Aku bertanya dan Tuhan Menjawab
Sikap Yang Positif :
Kita berkata: "Tidak mungkin."
TUHAN berkata: "Semua bisa terjadi." (Lukas 18:27)
Kita berkata: "Aku terlalu lelah."
TUHAN berkata: "AKU akan memberimu kelegaan." (Matius 11: 28-30)
Kita berkata: "Aku tidak berdaya."
TUHAN berkata: "Anugerah-KU cukup bagimu." (2 Korintus 12:9)
Kita berkata: "Aku tidak tahu harus berbuat apa."
TUHAN berkata: "AKU akan mengarahkan langkahmu." (Amsal 3:6)
Kita berkata: "Aku tidak sanggup."
TUHAN berkata: "Segala sesuatu dapat kamu tanggung." (Filipi 4:11)
Kita berkata: "Aku tidak mampu."
TUHAN berkata: "AKU mampu" (2 Korintus 9:8)
Kita berkata: "Aku kekurangan."
TUHAN berkata: "AKU akan mencukupkan semua kebutuhanmu."
(Filipi 4:19)
Kita berkata: "Aku takut."
TUHAN berkata: "AKU tidak memberi kamu roh ketakutan." (2 Timotius 1:7)
Kita berkata: "Aku kuatir."
TUHAN berkata: "Serahkan segala kekuatiranmu kepada-KU." (Roma 12:3)
Kita berkata: "Aku merasa sendirian."
TUHAN berkata: "AKU tidak pernah meninggalkan kamu." (Ibrani 13:5)
(Milis APIK)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Kita berkata: "Tidak mungkin."
TUHAN berkata: "Semua bisa terjadi." (Lukas 18:27)
Kita berkata: "Aku terlalu lelah."
TUHAN berkata: "AKU akan memberimu kelegaan." (Matius 11: 28-30)
Kita berkata: "Aku tidak berdaya."
TUHAN berkata: "Anugerah-KU cukup bagimu." (2 Korintus 12:9)
Kita berkata: "Aku tidak tahu harus berbuat apa."
TUHAN berkata: "AKU akan mengarahkan langkahmu." (Amsal 3:6)
Kita berkata: "Aku tidak sanggup."
TUHAN berkata: "Segala sesuatu dapat kamu tanggung." (Filipi 4:11)
Kita berkata: "Aku tidak mampu."
TUHAN berkata: "AKU mampu" (2 Korintus 9:8)
Kita berkata: "Aku kekurangan."
TUHAN berkata: "AKU akan mencukupkan semua kebutuhanmu."
(Filipi 4:19)
Kita berkata: "Aku takut."
TUHAN berkata: "AKU tidak memberi kamu roh ketakutan." (2 Timotius 1:7)
Kita berkata: "Aku kuatir."
TUHAN berkata: "Serahkan segala kekuatiranmu kepada-KU." (Roma 12:3)
Kita berkata: "Aku merasa sendirian."
TUHAN berkata: "AKU tidak pernah meninggalkan kamu." (Ibrani 13:5)
(Milis APIK)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
aku dan tuhan,
katolik,
kristen,
renungan kristiani,
sikap positif
Sunday, June 24, 2012
Jadi Seperti Apakah Anak ini nanti?
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
(NN)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
(NN)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
berita. agama,
buddha,
hindu,
islam,
katolik,
kristen,
opini,
pendidikan anak
Wednesday, April 04, 2012
SETIA Membuat Dirimu Dicintai
BERDOA membuat dirimu kuat..
MURAH HATI membuat dirimu diberkati...
GEMBIRA membuat dirimu sehat..
SENYUM membuat dirimu manis..
RAMAH membuat dirimu disukai…
SABAR membuat dirimu bijak...
SETIA membuat dirimu dicintai...
LEMAH LEMBUT membuat dirimu dikagumi...
Biarlah kehadiranmu menjadi Berkat bagi banyak orang . . .Amin
Powered by Telkomsel BlackBerry®
MURAH HATI membuat dirimu diberkati...
GEMBIRA membuat dirimu sehat..
SENYUM membuat dirimu manis..
RAMAH membuat dirimu disukai…
SABAR membuat dirimu bijak...
SETIA membuat dirimu dicintai...
LEMAH LEMBUT membuat dirimu dikagumi...
Biarlah kehadiranmu menjadi Berkat bagi banyak orang . . .Amin
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama,
cinta kasih,
filsafat,
katolik,
kristen,
renungan bijaksana,
renungan harian
Friday, December 16, 2011
Pokok-Pokok Pandangan Utama Gerakan Zaman Baru / New Age
Pokok-Pokok Pandangan Utama Gerakan Zaman Baru / New Age dalam kartun-kartun orientalis yang perlu diwaspadai, adalah sbb.:
(1). Wahyu. "Percaya adanya wahyu yang khusus dan terus menerus dari kekuatan atau misteri semesta (makro kosmos) kepada manusia (mikro kosmos) melalui perantara atau mediator, seperti nabi-nabi agama, medium, chaneler, dukun, yang dalam kebudayaan Hindu disebut "Avatar".
(2). Tuhan. Bersifat pantheism, "Semua adalah tuhan dan tuhan adalah semua."
(3). Mesias. "Akan ada tokoh dunia yang bersifat 'mystic' dan 'occultic' yang menjadi pemersatu dunia dan penggerak untuk tatanan dunia baru".
(4). Setan. "Tidak ada setan. Setan hanyalah efek negatif dari keilahian, aspek negatif dari kekuatan semesta yang timbul karena ketidakseimbangan atau ketidakharmonisan kosmis itu".
(5). Manusia. "Manusia adalah bagian kecil dari mikro kosmos -- alam semesta dan mempunyai sifat ilahi dalam dirinya, atau dapat dikatakan bahwa manusia adalah tuhan di antara tuhan".
(6). Iman. "Potensi manusia berupa energi dalam dirinya; kehendak dan motivasi manusia itu sendiri".
(7). Doa. "Sama artinya dengan meditasi atau penyatuan diri dengan hakekat alam semesta".
(8). Dosa dan Keselamatan. "Tidak ada kejahatan atau dosa, yang ada hanya ketidak seimbangan; oleh sebab itu tidak perlu keselamatan".
(9). Agama. "Agama adalah jalan menuju yang satu; yaitu menuju roh semesta. Semua agama adalah sama, karena menuju pada tujuan yang sama, yaitu kesatuan kosmis".
(10). Hal-hal akhir. "Tujuan akhir dunia adalah tatanan dunia baru dan persatuan dari berbagai budaya, agama, dan negara".
(11). Kesehatan. "Kesehatan yang benar hanya dapat dihasilkan bila terjadi interaksi yang tepat dan keseimbangan dalam tubuh, jiwa, dan roh manusia. (sumber: milis APIK melalui link: www.sabdaspace.com/naruto_dkk_new_age_movement )
Powered by Telkomsel BlackBerry®
(1). Wahyu. "Percaya adanya wahyu yang khusus dan terus menerus dari kekuatan atau misteri semesta (makro kosmos) kepada manusia (mikro kosmos) melalui perantara atau mediator, seperti nabi-nabi agama, medium, chaneler, dukun, yang dalam kebudayaan Hindu disebut "Avatar".
(2). Tuhan. Bersifat pantheism, "Semua adalah tuhan dan tuhan adalah semua."
(3). Mesias. "Akan ada tokoh dunia yang bersifat 'mystic' dan 'occultic' yang menjadi pemersatu dunia dan penggerak untuk tatanan dunia baru".
(4). Setan. "Tidak ada setan. Setan hanyalah efek negatif dari keilahian, aspek negatif dari kekuatan semesta yang timbul karena ketidakseimbangan atau ketidakharmonisan kosmis itu".
(5). Manusia. "Manusia adalah bagian kecil dari mikro kosmos -- alam semesta dan mempunyai sifat ilahi dalam dirinya, atau dapat dikatakan bahwa manusia adalah tuhan di antara tuhan".
(6). Iman. "Potensi manusia berupa energi dalam dirinya; kehendak dan motivasi manusia itu sendiri".
(7). Doa. "Sama artinya dengan meditasi atau penyatuan diri dengan hakekat alam semesta".
(8). Dosa dan Keselamatan. "Tidak ada kejahatan atau dosa, yang ada hanya ketidak seimbangan; oleh sebab itu tidak perlu keselamatan".
(9). Agama. "Agama adalah jalan menuju yang satu; yaitu menuju roh semesta. Semua agama adalah sama, karena menuju pada tujuan yang sama, yaitu kesatuan kosmis".
(10). Hal-hal akhir. "Tujuan akhir dunia adalah tatanan dunia baru dan persatuan dari berbagai budaya, agama, dan negara".
(11). Kesehatan. "Kesehatan yang benar hanya dapat dihasilkan bila terjadi interaksi yang tepat dan keseimbangan dalam tubuh, jiwa, dan roh manusia. (sumber: milis APIK melalui link: www.sabdaspace.com/naruto_dkk_new_age_movement )
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
agama,
katolik,
new age,
opini,
renungan harian
Friday, April 30, 2010
HARI KIAMAT MENURUT IMAN KATOLIK
Pandangan hari kiamat menurut ajaran Katolik akan ditelusuri dari dokumen resmi Gereja Katolik antara lain, Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik.Hari Kiamat
Dalam agama Katolik hari kiamat sama dengan hari pengadilan (bdk. Katekismus, art. 681) saat Yesus datang untuk yang kedua kalinya dalam rangka mengadili orang hidup dan orang mati.
Dalam bahasa Yunani, hari Kiamat atau hari Pengadilan Terakhir disebut parousia = kedatangan. Dalam dokumen Kristiani yang paling tua (1Tes 4:15; 1 Kor 15:23) parousia sudah dipakai untuk menyebut kedatangan Kristus kembali dalam kemuliaan pada akhir zaman untuk mengadili dunia (Mat 24:29-31;25:31-46). Hari itu akan menjadi “hari Tuhan” (1Kor 1:8) dan pada waktu itu Kristus “akan tampak untuk kedua kalinya” (Ibr 9:28). Orang-orang kristiani menantikan penampakan ini dengan sabar (Yak 5:7-8; 2Ptr1:16; 3:4.12; 1Yoh 2:28). Injil-injil Sinoptik menghubungkan penantian akhir zaman ini dengan peringatan untuk berjaga-jaga (Mat 24:36-25:13; Mrk 13:1-37; Luk 21:5-36).
Soal kapan akhir zaman itu datang, tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan Yesus Kristus (Allah Putera) maupun malaikat-malaikat pun tidak tahu, kecuali Allah Bapa.
Tanda-tanda hari Kiamat
Tanda-tanda hari kiamat atau akhir zaman menurut Kitab Suci:
--> Umat akan mengalami berbagai ujian seperti kedatangan nabi/mesias palsu (Luk 18:8)
--> Akan terjadi hambatan seperti penganiayaan terhadap pengikut Kristus (Luk 21:12)
--> Langit dan bumi akan hancur dan hangus melalui nyala api (kehancuran kosmis) (2 Ptr 13:10-13)
--> Munculnya pemberontakan atau penyerangan hebat terhadap Gereja dari kekuatan jahat
Kutipan-Kutipan dari dokumen resmi Gereja Katolik:
Katekismus Gereja Katolik
Artikel 675: Sebelum kedatangan Kristus, Gereja harus mengalami ujian terakhir yang akan datang menggoyahkan iman banyak orang (Luk 18:8). Penghambatan, yang menyertai penziarahannya di atas bumi (Luk 21:12), akan menyingkapkan “misteri kejahatan”. Satu khayalan religius yang bohong memberi kepada manusia satu penyelesaian semu untuk masalah-masalahnya sambil menyesatkan mereka dari kebenaran. Kebohongan religius yang paling buruk datang dari Anti-Kristus, artinya dari mesianisme palsu, di mana manusia memuliakan diri sendiri sebagai pengganti Allah dan mesiasNya yang telah datang dalam daging (2 Tes 2:4-12)
Artikel 681: Pada hari pengadilan, pada hari kiamat, Kristus akan datang dalam kemuliaanNya, untuk menentukan kemenangan kebaikan secara definitif atas kejahatan, yang dalam perjalanan sejarah hidup berdampingan bagaikan gandum dan rumput di ladang yang sama.
Artikel 682: Kalau Ia datang pada akhir zaman untuk mengadili orang hidup dan orang mati, Kristus yang dimuliakan akan menyingkapkan isi hati yang terdalam dan akan membalas setiap manusia sesuai dengan pekerjaannya, tergantung pada, apakah ia menerima rahmat Tuhan atau menolaknya.
Kitab Suci:
Mrk 13:32 Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.
Luk 21:12 Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena namaKu.
2 Ptr 3:10-13
(10) Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.
(11) Jadi, jika segala sesuati ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup,
(12) yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langat akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya.
(13) Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, dimana terdapat kebenaran.
SUMBER:
Katekismus Gereja Katolik terbitan Kanisius
Kitab Suci Katolik terbitan Lembaga Biblika Indonesia
Kamus Theologi, dll
Label:
katolik,
kiamat,
kiamat menurut ajaran katolik
Monday, November 23, 2009
MENGENAL YESUS BERARTI BERANI BERUBAH
Bahan Bacaan: Matius 11:11-15Saudari/I yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Mengenal atau mengetahui sesuatu berarti harus berani berubah sesuai dengan pengetahuannya itu. Sejauh mana anda, kita mengenal Yesus?
Ada sebuah cerita dari Anton de Mello SJ tentang seorang Komunis (Atheis), seorang ateis yang berubah menjadi Katolik. Temannya si atheis bertanya untuk menguji iman temannya yang sudah menjadi Katolik: selama kamu masuk Katolik: Yesus lahir dimana? Berapa usia ketika Yesus disalibkan? Berapa kali berkhotbah? Orang itu menjadwab: saya tidak tahu dan jawabnya selalu saya tidak tahu.
Kawannya yang sudah jadi katolik berkomentar: bagaimana seperti itu pengikut Kristus? Orang itu menjawab: saya tidak tahu banyak tentang Kristus, namun dulu keluargaku semrawut, mabuk, judi, banyak utang, namun sekarang utang-utangku sudah lunas, berhenti judi dan pemabuk, keluarga jadi bahagia, setiap sore istrinya tidak sabar menanti saya pulang kerja. Itu semua berkat Kristus. Sebanyak itulah saya tahu tentang Kristus. Pesan pencerita adalah : “Mengetahui sesuatu, berarti berani berubah”
Saudara/I dalam Kristus
Bacaan Injil yang kita dengar berbicara tentang pusat iman kita yaitu Yesus Kristus yang diutus Allah. Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Ia lebih besar dari Yohanes Pembaptis. KedatanganNya sendiri dipersiapkan Yohanes Pembaptis agar semua orang bertobat. Namun banyak orang tidak percaya dan tidak mendengarkan Yesus Kristus. Dalam Injil Matius kita mendengar tentang pekerjaan Yesus Kristus yang luar biasa: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.
Untuk kita: apakah kita mengenal Yesus? Ingatlah bahwa mengenal Yesus berarti harus berani berubah menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Paling tidak kita mempunyai iman akan Yesus, Sang Penyelamat dan Sang Penyembuh jiwa manusia. Yesus pernah berkata kepada Bartimeus: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkanmu!” Yesus mengatakan itu setelah Bartimeus sembuh karena mempunyai iman.
Saudara/I dalam Kristus,Bagi kehidupan dan permasalahan kita: pengetahuan kita tidaklah cukup. Imanlah yang menyelamatkan kita. Barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. AMIN.
Subscribe to:
Posts (Atom)